Batal Ikut Lomba, Ternyata Begini Kronologis Puluhan Penabuh Baleganjur di Denpasar Keracunan Nasi Jinggo

By Tazkiya, Minggu, 22 September 2019 | 12:45 WIB
()

Batal Ikut Lomba, Ini Kronologis Puluhan Penabuh Baleganjur di Denpasar Keracunan Makanan

Sajiansedap.com - Batal ikut lomba, begini kronologi 35 orang penabuh Baleganjur keracunan makanan.

I Kadek Sutrisna terbaring lemah di Rumah Sakit Dharma Yadnya Denpasar, Sabtu (21/9/2019).

Ia mengalami keracunan makanan saat gladi bersih untuk lomba baleganjur Buala Culture Festival 2019 di lapangan eks Tragia Nusa Dua, Kamis (19/9/2019) hingga Jumat (20/9/2019).

Baca Juga: [KITCHENESIA.COM] Make Room For Mushrooms! Here's How to Store Asian Mushrooms

Selain Sutrisna, puluhan orang lainnya juga mengalami hal yang sama.

"Saya gladi jam 8 malam hari Kamis (19/9/2019) lalu dikasih makan jam 3 pagi hari Jumat nya," ujarnya pelan saat ditemui Sabtu (21/9/2019).

Setelah beberapa jam, tepatnya pada pukul 14.00 Wita, Jumat (20/9/2019), ia diare, lemas disertai pusing.

"Banyak juga teman-teman yang keracunan, bukan cuma saya aja," ujarnya.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) ini mengaku hanya dua orang temannya yang tidak keracunan.

"Ada dua teman saya yang gak kena, satu karena gak makan, satunya lagi karena gak makan telur yang ada di nasi jinggo," katanya.

Awalnya, Sutrisna tidak merasa curiga terhadap nasi yang diberikan petugas dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar itu.

Dalam kondisi lapar ia melahap habis nasi tersebut.

Baca Juga: Resep Sop Daging Kacang Merah Enak Ini Sukses Bikin Lupa Diet

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Drs I Gusti Ngurah Bagus Mataram masih menunggu laporan dari tim kesehatan yang menguji makanan yang dicurigai sebagai penyebab keracunan.

"Kita menunjuk rekanan untuk memenuhi konsumsi seniman kita dan kebetulan ada musibah ini. Kita sudah cek sampel makanannya di BPOM dan kita masih menunggu penyebabnya, apakah dagingnya atau telurnya," ujarnya.

Batal Ikut Lomba

Saat ditemui kemarin, Kadek Sutrisna didampingi ayah kandungnya, I Wayan Sana yang juga Bendesa Adat Penatih.

lomba balehanjur denpasar
Baca Juga: Masak Apa Besok? Roti Keju Enak Ini Bisa Untuk Menu Sarapan yang Mudah dan Praktis

Wayan Sana menuturkan, Desa Penatih terpaksa batal mengikuti lomba baleganjur lantaran hampir semua penabuh keracunan.

"Jumlah penabuhnya 35 orang dan semua gak bisa ikut. Ya karena keadaan gini mereka gak mampu ikut. Padahal latihannya memakan waktu tiga bulan dan biaya sudah keluar banyak, Rp 50 juta. Mereka sangat marah dan kecewa, ya mau gimana lagi ini musibah dan enggak ada pengganti mereka," kata Wayan Sana.

Ia berharap pihak Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menjenguk anaknya yang terbaring di rumah sakit.

"Iya saya berharap mereka melihat anak saya, karena anak saya kan juga butuh dukungan," ujarnya.

Putu Wahyudi Eka Putra selaku pendamping lomba baleganjur Telung Barung Desa Pekraman Penatih juga menjadi korban.

"Iya makan nasi jinggonya itu, gejalanya sih beda-beda setiap orang. kalau saya diare, lemas sama pusing," katanya saat ditemui di kediamannya di Desa Pekraman Penatih.

Ia melukiskan peristiwa ini sebagai keracunan massal yang mengakibatkan puluhan orang dari banjar dan desa adat terkapar.

"Ada tiga banjar yang kena karena mereka kan ikut lomba juga. Ada Banjar Angabaya, Desa Adat Penatih dan Tembau Kelod," jelasnya.

#GridNetworkJaura